Kopi Nggak Bikin Hebat, Tapi Jadi Teman Mikir yang Setia
ā Kadang kopi pahit pun tetap diminum. Bukan karena rasa pahitnya, tapi karena udah jadi teman mikir.
Kopi pagi ini biasa aja. Nggak terlalu wangi, nggak terlalu strong. Tapi tetap diminum. Bukan buat kelihatan sibuk, tapi karena ngerasa ada temen yang diemānggak nuntut, tapi nemenin. Juga ada rasa tenang yang muncul saat nyeruput pelan-pelan.
Banyak yang bilang, ānggak bisa mikir tanpa kopiā. Tapi semakin kesini semakin sadar bahwa:
yang bikin mikir itu bukan kopinya, tapi waktunya. Dan kopi cuma jadi penanda bahwa waktunya mikir udah dimulai.
š ļø Dulu, waktu masih ngoding pakai PC kentang (sekarang juga masih sih..), sambil nyeruput kopi sachet yang ampasnya udah ngedep, tetap aja bisa bikin sesuatu. Nggak keren, tapi jalan. Nggak viral, tapi jadi.
Dan lucunya, ide-ide terbaik sering muncul bukan pas minum buru-buru atau minum kopi mahal. Tapi justru pas lagi tenang, sambil ngeliatin uap kopi naik pelan-seolah pikiran ikut ngambang.
š” Jadi intinya bukan di kopinya. Tapi di jedanya. Di momen ketika kepala bisa sedikit diam, dan hati mulai nyambung lagi sama niat awal.
Mau kopi premium, kopi kampung, atau kopi sachet, semua sah-sah aja. Tapi kalau bisa nemuin waktu buat tenang sebentarāmeski cuma 15 menitanāitu kadang lebih berharga dari secangkir espresso mahal.
š¶āāļø Jadi, lain kali pas pikiran mulai ruwet, coba berhenti sebentar. Ambil jeda. Kalau ada kopi, anggap aja bonus.
Santai dikit, tapi mikir tetap jalan. š¤